Kamis, 09 Agustus 2012

CMP

Ku menyayangimu dari hulu sampai hilir, seperti air yang mengaliri sungai. Riaknya nyanyikan lagu cinta tentang syair sang pujangga. Ku mencintaimu dari pagi sampai malam. Lembutnya bak sinar rembulan menyinari segala bentuk kerinduan, yang tercipta pada jumpa pertama.

Rindu inipun menjadi karat yang jelas menyiksa dinding mimpiku.. Kau yang tetap jadi puisi indah dalam rasa ini.. Sedang aku terus tersungkur semakin dalam pada waktu yang tak bertuan.. Dekapku terpatahkan dan berdiriku tak bertumpuan.


Waktu kian larut dan tak sedikitpun bersahabat dengan hatiku. Meskipun telah ku bukukan kisahmu pada sang hati namun air mata ini masih membayangi malam-malamku. Bagaikan tangga nada dalam sebuah lagu, harmonis seiring pengantar tidur. Seperti udara dalam nafasku mengisi rongga di jantungku. Layaknya darah dalam nadiku mengalir ke seluruh tubuhku. Seperti itulah aku mengingatmu.

Ketika cinta tak lagi bersemayam dihati, darah yang mengalir disetiap tetesan air mata seolah memberi arti. Rasa yang kian jadi beku karena cinta tanpa ketulusan, jiwa terpasung atas nama cinta. Namun kekecewaan dan kebencian masih terlukis indah diruang kalbu yang tak tersentuh rasa kasih hingga terlantun tembang-tembang berdarah, dari goresan hati yang terluka oleh kepalsuan. 

Gelisah hati ini tak bisa melihat kenyataan ini. Begitu menyiksa hati dan perih yang ku tahan. Tertuliskan ukiran dan goresan nama sang wanita dari hati yang tersakiti. Sebisa mungkin akan aku kuatkan, semampu mungkin aku pertahankan. Ku tahu, tak layak untukku mengalami ini. Sakit hatiku melebihi dustamu. 

Sesat terhimpit, tangisanpun tak mungkin mengembalikanmu. Dimanapun kini kau berada hanya diamku mengartikan makna. Aku terdiam bukan takut ataupun menghindar, namun seribu hal sedang berlarian dalam pikiranku. Nyanyian rindu hanya pengantar tidurku dari nada duka di hatiku. Tangisanku hanya irama sumbang di tengah malam.

Awan putih pun menghitam hadirkan bulir air mengalir. Indahnya rasa berganti suram karena ego yang tak terkalahkan. Saat cinta telah bertahta di jiwa hasrat hati. Namun dilema rasa menerjang. Kekecewaanku dan sakit hati ini ada karenamu. Hampa kini yang kurasa, menangispun tak mampu ku tahan. Hanya kenangan dan kesedihan yang ada.. Sungguh kecewa dan sakit hati ini.

Pergilah ikuti langkah dan egomu. Maafkan aku yang tak bisa mengikuti pemikiran dan semua keinginanmu. Maafkan juga atas kediamanku, mungkin yang tak dapat kau terima dan mengartikannya. Usahaku telah pupus dalam keputus asaan bahkan ku merelakan pendidikan dan masa depanku. Maafkan jiwa yang rapuh ini, tiada kekuatan tanpamu. Biarkan rasa sayang dan cinta ini ku bawa sendiri. Aku tak bisa menahan air mata dan kesedihan ini.

- MY -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar